Saturday, 11 May 2013

SMA Unggulan CT Foundation Siap Jadi Produsen untuk Program Bidikmisi


Jakarta --- Pendiri SMA Unggulan Chairul Tanjung Foundation (CTF), Chairul Tanjung, menyatakan siap untuk menjadikan sekolah yang didirikannya sebagai produsen calon mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Hal ini disampaikan Chairul usai penandatanganan nota kesepahaman antara ketua yayasan CTF, Anita Chairul Tanjung, dengan 16 rektor perguruan tinggi, di Graha Utama Kemdikbud, Kemarin, Selasa (19/3).
“CTF siap menjadi partner dan provider bagi program pemerintah, yaitu Bidikmisi,” katanya. Beasisawa Bidikmisi merupakan program beasiswa yang disasarkan bagi lulusan SMA yang berasal dari keluarga tidak mampu tapi memiliki potensi akademik yang mumpuni. Dan CTF telah memenuhi kedua syarat tersebut sejak seleksi awal calon siswanya.
“Kami menjamin, bahwa yang lulus dari SMA Unggulan CTF 100 persen miskin. Karena sebelum masuk dilakukan assesment langsung lokasi tempat tinggal siswa,” kata Chairul.
Selain faktor ketidakmampuan siswa dalam segi ekonomi, seleksi di CTF juga meliputi tes akademik, psikotes, dan wawancara. Untuk tes akademik terdiri atas mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris. Fasilitas belajar di SMA Unggulan CTF pun sudah memadai. Terutama karena sekolah ini fokus pada ilmu sains, maka perlengkapan laboratorium difasilitasi dengan baik.
Ketua Yayasan CTF, Anita Chairul Tanjung, menjelaskan cikal bakal berdirinya sekolah yang berada di Medan, Sumatera Utara ini. Sebelum sekolah ini berdiri, untuk menampung anak-anak korban bencana tsunami di Aceh, dirinya mendirikan komunitas Rumah Anak Madani. Anak-anak ini diasramakan dan di sekolahkan di sekolah sekitar asrama. Setelah beberapa tahun, akhirnya baru pada 2010 lalu didirikan SMA Unggulan CTF. Di tahun pertama sekolah ini menerima 270 siswa. Sebagian di antaranya masih menghimpun anak-anak dari korban bencana tersebut.
Tahun kedua dan ketiga, SMA ini telah melakukan seleksi ketat terhadap calon siswanya. Calon siswa yang mendaftar didatangi ke rumahnya masing-masing. Bahkan, ada siswa yang berasal dari daerah yang memerlukan waktu 12 jam perjalan darat untuk ke kota Medan. “Kita ada pendekatan sendiri dalam mencari siswa kita,” kata Anita.
Tahun 2013 merupakan tahun pertama bagi SMA Unggulan CTF untuk meluluskan siswanya. Rencananya, sebanyak 100 siswa yang akan lulus dari sekolah ini akan melanjutkan sekolahnya masing-masing ke salah satu dari 16 perguruan tinggi yang telah bekerja sama dengan CTF. Anita juga yakin, SMA Unggulan CTF yang sekarang menjadi role model akan terus dikembangkan ke 33 provinsi lainnya. Sehingga akan sangat membantu PTN dalam mencari siswa-siswa miskin dan berpotensi akademik dari seluruh wilayah Indonesia. (AR)

No comments:

Post a Comment