Friday, 10 May 2013

Sekolah Dambaanku

Sekolah Dambaanku

Pendahuluan
Sekolah Dambaanku


Sekolah Dambaanku adalah sebuah program penyusunan buku yang terinspirasi dari karya Edward Blishen tahun 1968 yang berjudul “The School that I’d Like”. Buku tersebut memuat opini-opini siswa usia pendidikan dasar hingga menengah (8-17 tahun) tentang sekolah ideal menurut mereka.
Idenya sederhana, hanya memuat ‘quotes’ atau cuplikan-cuplikan dari anak-anak tersebut dan mengkategorikannya dalam beberapa topik yang sama. Namun hasilnya cukup menarik.
Tahun 2004 lalu produksi buku ini juga diulang oleh Guardian Education dari United Kingdom dengan editor Professor Ian Grosvenor dan Catherine Burke. Dengan format yang sama, buku ini mengambi konteks tentang pendidikan di abad 21.
Tim penyusun sudah menghubungi kedua professor tersebut dan mendapat dukungan untuk menyusun buku dalam konteks dan bahasa Indonesia.
Ide dari pembuatan buku ini memang tidak original, namun dengan konteks Indonesia, buku ini diharapkan berkembang sangat apik. Indonesia dengan keragaman budaya, bahasa, dan pengalaman setiap penduduknya akan menorehkan pandangan berbeda tentang sekolah ideal yang mereka dambakan.
Buku ini menargetkan pendapat dari banyak peserta didik dengan latar belakang dan kondisi yang beragam. Pendapat-pendapat tersebut akan disaring dan dikategorikan dalam beberapa sub-topik dan kemudian disusun menjadi sebuah buku. Buku ini diharapkan dapat diluncurkan saat hari Pendidikan Nasional bulan Mei tahun 2013.
Tujuan
Tujuan dari penyusunan buku ini antara lain:
  1. Mendengarkan dan mendokumentasikan suara anak Indonesia tentang sekolah yang mereka dambakan
  2. Memberikan sebuah rujukan mengenai sekolah yang didambakan anak Indonesia kepada pemegang otoritas pendidikan
  3. Menjadi sebuah hadiah untuk pendidikan Indonesia
Sasaran 
Sasaran dari penyusunan buku ini adalah suara atau pendapat anak-anak sekolah berusia 8-17 tahun (SD-SMA) di berbagai daerah Indonesia.
Metode
Teknik pengumpulan pendapat dapat dengan wawancara, meminta peserta didik membuat puisi, menggambar, atau dengan cara lainnya.
Kriteria
Saat bertanya atau mengumpulkan pendapat dari anak-anak sekolah, diharapkan kita memperhatikan hal-hal berikut ini:
  1. Bahasanya jelas & sesuai target
    Dalam hal ini pertanyaan dapat dimengerti dengan baik oleh siswa target, dengan mempertimbangkan: usia, kemampuan akademik di sekolah, dan atau di lingkungan luar sekolah.
  2. Bertujuan tunggal
    Pertanyaan tidak menuntut jawaban lebih dari satu ide sehingga menjaga jawaban anak tetap terstruktur.
  3. Bebas dari asumsi
    Pertanyaan tidak dalam bentuk menghakimi berdasarkan asumsi dari penanya. Contoh pertanyaan asumsi: “Seberapa sering kamu terlibat tawuran?”  – asumsinya bahwa anak tersebut pernah/sedang terlibat tawuran.
  4. Bebas dari saran
    Pertanyaan tidak menggiring siswa target ke jawaban tertentu. Misalnya: “Kamu tidak akan menyontek saat ulangan,kan?

sumber: http://youth-esn.16mb.com

1 comment: