-
Dengan bersepeda kami mengayuhnya hingga parkir di
depan warung ketan yang secara tak disangka disitu telah ada Bung
August. Bung August salah satu manajer lembaga kursus disini pun
selanjutnya tergiring untuk diskusi bersama mulai dari potensi alam dan
budaya Kediri, situasi hukum dan politik nasional, kriminalisasi
penyidik di KPK hingga koleksi buku-buku yang bagus untuk dibaca. Nah
sebelum diskusi atau saat memarkir sepeda itulah saya langsung di sodori
sebuah buku oleh Bung August, judulnya: “Chairul Tanjung, Si Anak
Singkong”. Bung August ternyata masih menyimpan keinginan saya untuk
membaca buku itu pada diskusi kami tempo hari dan bersedia meminjamkan
buku itu meski harus diambilnya terlebih dahulu di kediamannya di
Nganjuk, sebuah kabupaten yang tetangganya Kediri.
Saya memang ‘menggilai’ buku dari pada harus jadi
gila karena sang kekasih…(hahaha). Bahkan memilih lebih sering jatuh
cinta kepada buku ketimbang patah hati oleh seorang gadis. Bersama buku,
kamus patah hati tidak kujumpai, buku apa saja yang kutemui saya pasti
cinta sedalam-dalamnya. Dengan seorang gadis, istilahnya lebih sering
patah hati setelah jatuh cinta…(hehehe) –padahal saya tahu rumusnya
tidak sesulit yang dibayangkan, bahwa setelah jatuh cinta tahap
selanjutnya adalah membangun cinta, lalu merawatnya hari demi-hari untuk
menghasilkan buah-buah kasih sayang, selalu berkomitmen satu jiwa dalam
dua tubuh lalu menyiramnya dengan air kehangatan, kebahagiaan juga
kedamaian, sebab tidak ada cinta sejati di dunia ini kecuali kita mau
melakukannya, “Just do it”, kata seniorku Mercy Rampengan, kandidat Doktor Ekologi Kebencanaan di Universitas James Cook Australia, ketika di Manado.
Jadi saya pun juga tidak mau seperti Soe Hok-Gie,
ikon aktivis mahasiswa ‘65-‘66, yang selalu kandas menaklukkan hati
gadis pujaannya padahal punya istilah: “Buku-Pesta-Cinta”. Mungkin
karena lebih ‘menggilai’ buku, kembara alam dan aktivisme cinta tanah
air-bangsa-negara maka istilah “cinta”nya untuk gadis impian
dinomorduakan. Terlepas dari itu, saya ‘menggilai’ tulisan-tulisan
almarhum Gie, terutama sajak-puisinya yang romantis-sarat makna dan buah
pemikirannya yang dirangkum dalam “Catatan Seorang Demonstran”, buku
harian yang sering disentil sebagai “Kitab Suci” aktivis mahasiswa
Indonesia.
Maka di kampung Inggris ini saya sungguh pelajar
bahasa yang paling beruntung. Bung August dengan baik hati secara
berkala meminjamkan koleksi bukunya. Pertama, buku Cracking Zone
–nya Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Khasali yang membahas
bagaimana perkembangan dan kemajuan di bidang teknologi informasi dan
komunikasi telah membuat suatu perubahan dalam gaya dan pola hidup
masyarakat Indonesia, lalu ada buku: The Travels of a T-Shirt in the Global Economy-nya
Prof. Pietra Rivoli dari Universitas Georgetown Amerika Serikat yang
menganalisa ekonomi pasar, kekuasaan dan politik perdagangan dunia,
pasar Bebas, dari kisah sederhana tentang kaos oblong (T’shirt)
seharga enam dolar, serta tentu saja “Chairul Tanjung, Si Anak
Singkong” yang sedang kubaca ini. Nah, buku yang terakhir ini berkisah
tentang perjuangan hidup seorang Chairul Tanjung atau Bung CT, big bosnya CT
Corp (Chairul Tanjung Corporation), yang sedang jadi buah bibir dan
dibahas dimana-mana. Tak ketinggalan didiskusikan juga di salah satu
sudut kampung Inggris.
Balik dari warung ketan ke Saigon, pukul sepuluh
malam saya putuskan untuk mengurung diri dikamar, larut dan membaca
detil helai-demi helai 384 halaman buku ini. Saya pun mulai mencicipi
‘Singkong Rebus Panas’ ala Chairul Tanjung itu ditemani 1500 mili liter
botol air mineral club. Rasanya memang tak benar-benar singkong, tetapi
setelah melumat, mengunyah, menyantap habis, maka kini kudapat lumuran
‘keju’ inspirasi pengalaman dan motivasi darinya. Jadinya singkong rasa
keju, sungguh begitu nikmatnya apalagi dengan secangkir kopi hitam
panas-panas…(wow…hahaha).
Pengalaman kerja keras, etika, kerjasama dan
komitmennya bergelut di dunia bisnis selama lebih dari 30 tahun membuat
Bung CT memiliki segudang pengalaman dan prestasi yang sungguh sayang
untuk tidak kita timba. Diawali dari usaha di sektor informal
memperbanyak dan menjual buku asisten praktikum dan usaha fotokopi di
bawah tangga kampus UI selama mahasiswa yang selalu disebutnya sebagai milestone kebangkitan semangat entrepreneurshipnya,
kemudian menjadi pemasok alat-alat kedokteran gigi, usaha industri
genteng metal, produsen sandal, produsen kertas-kertas sembayang, bisnis
properti, mengelola Bank Karman, sebuah bank bermasalah di tahun 1995
ke Mega Bank selanjutnya berganti nama Bank Mega, lalu ada Bank Mega
Syariah, bank swasta pertama di Indonesia yang beroperasi dengan konsep
syahriah setelah mengkonversi Bank Tugu Pratama -bukanlah pekerjaan
mudah. Maklum usaha perbankan merupakan sebuah usaha yang sama sekali
tidak sembarangan, harus dikelola dengan amat hat-hati, penuh
ketelitian, karena tanggungjawab yang begitu besar. Ini sebuah usaha
mulia untuk menjalankan amanah para nasabah, seperti komitmen pada
ikatan suci ‘ijab kabul’ dalam perkawinan.
Saya mengatakan demikian karena kita (atau mereka)
yang telah dewasa berpikir di era tahun 1996 hingga 2000 tentu masih
ingat jelas bagaimana negeri ini memiliki masalah dunia perbankan yang
tata kelolanya tidak baik, nasabah bermasalah, kredit macet, bank
bangkrut, dilikuidasi dan akibatnya uang rakyat yang harusnya untuk
pembangunan direlakan untuk mengganti uang nasabah dan bahkan yang lebih
miris lagi sampai di korupsi, sungguh terlalu. Nah, di buku Bung CT ini
saya menemukan ujarannya bahwa di bisnis perbankan yang menurut saya
mulia itu, kita memang tidak pernah tahu bahwa mungkin saja uang yang di
tabung merupakan satu-satunya harta nasabah. Bahwa Kalaupun mereka
bicara jujur dari dasar hati yang paling dalam, mungkin saja sebagian
nasabah akan berkata: “Ini harta saya, titipan Tuhan, saya percayakan
kepada Anda. Silahkan kelola dengan baik, dan bila untung, saya harap
akan mendapat bagian setimpal”.
Dari pengalaman carut-marutnya dunia bisnis
terutama perbankan di tanah air, sekarang ini sangat mudah mencari dan
menemukan orang berkualitas dalam pekerjaan, tapi cukup sulit mencari
yang memiliki integritas dan kejujuran, sementara hal ini merupakan
parameter utama bagi karyawan-karyawan di seluruh perusahaan. Jadi saya
pikir menimba ilmu dari Bung CT meskipun melalui paparan di keterbatasan
buku ini sungguh tak ada ruginya.
Tahun 2001 hingga 2004, Bung CT pernah dipercaya
memimpin induk olahraga bulu tangkis Indonesia (PBSI) dan menerapkan
manajemen profesional disitu sehingga pernah berhasil mempertahankan
piala Thomas terakhir bagi Indonesia di Guangzhou, Cina -tahun 2002. Dia
orang sipil pertama yang memimpin PBSI setelah sebelumnya organisasi
ini kerap dipimpin Jenderal Militer. Akhir desember tahun 2004 saat
Gempa-Tsunami menghantam Nanggroe Aceh Darussalam, Bung CT bersama
koleganya pun berbuat disana, terutama membangun sekolah unggulan dan
asrama (rumah anak madani) di Deli Serdang, Sumatera Utara untuk
memberikan akses pendidikan bagi anak-anak korban bencana dan yang
mengalami keterbatasan biaya.
Maka membaca buku ini, membuat anak muda seperti
saya bisa saja terkesima oleh mimpi besar Bung CT dengan Visi Indonesia
2030 yang dikatakannya untuk mewujudkan Indonesia maju, modern, sejajar
dengan negara-negara besar lainnya dengan masyarakatnya yang sejahtera,
juga tentang kerja keras, perbaikan akhlak bangsa dan pemberdayaan
sektor ekonomi umat untuk mengejar ketertinggalan. Tentang keinginannya
agar Indonesia bisa lebih baik bukan hanya satu tahapan tetapi
berkelanjutan dan tidak pernah putus seperti motivasinya membangun Trans
Corp, Global Resources dan Carrefour Indonesia yang bernuansa
kekeluargaan. Saya pikir mungkin saja kelak orang-orang seperti Bung
Chairul harus di ‘coblos’ menjadi Presiden NKRI pada pesta demokrasi
Pemilu nanti…(hahaha)
Ada satu yang paling saya suka di buku itu yaitu
tentang masa kecil dan kehidupan keluarganya sebelum dia sukses seperti
sekarang. Ditempa oleh kehidupan yang keras sementara kondisi ekonomi
keluarganya yang morat-marit, Bung CT hanya berujar: “Sudahlah,
hidup tak semata memorabilia dan melayang berlama-lama di dalamnya. Yang
penting adalah bagaimana langkah kedepan dengan tidak mengulang
berbagai kesalahan di masa depan”.
Okey, terima kasih Bung CT, semoga saya dan pembaca menjadi amat produktif lagi dengan daya juang dan kreatifitas entrepreneurship,
terus bekerja keras-cerdas, profesional sekaligus tetap jujur dengan
napas nasionalis kerakyatan untuk menumbuhkan optimisme kita sebagai
negara-bangsa ‘terkaya’ di dunia ini (for a better Indonesia).
Kata Bung Karno, Presiden Pertama kita seperti dikutip di halaman 354:
“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, memiliki makna filosofis
agar potensi bangsa yang luar biasa besar ini bukan hanya sebagai bangsa
kuli yang dijuluki benar-benar tempe dan singkong, dan untuk itulah
bagi kita generasi sekaranglah yang harus lebih realistis serta lebih
pandai dalam menyiasati kehidupan ini. Maka teringatlah saya pada
kalimat bijak ini: “Nikmatnya hidup akan terasa setelah kita lelah
berjuang”. Salam…YES WE CAN!
No comments:
Post a Comment