Friday, 10 May 2013

Mengunyah “Si Anak Singkong” di Kampung Inggris

13497269661989143412
-
Sabtu kemarin sehabis hujan lebat setengah tiga sore, saya ingin sekali menyeruput segelas kopi hitam panas. Sampai di Minggu sore ini, hujan sudah tiga kali menguyur basah semua yang ada di kampung Inggris setelah enam bulan mentari bersinar terik di langit Kediri yang ceria. Jadinya saya dan Mr. Hendro, teman sepondok di Saigon House yang alumni Universitas Pajajaran Bandung, bersepakat nongkrong di warung ketan, satu tempat terfavorit disini. Selain rindu suguhan kopi dan nasi ketan disitu, juga untuk refreshing, menikmati suasana sore di sela pemandangan kebun jagung dan tentu saja melepas ketegangan setelah beberapa hari kemarin belajar bahasa. Bagi mereka yang terbiasa ritme belajar disini, setelah dua minggu serius belajar tentu harus ada relaksasinya, “ada waktu untuk serius dan ada pula waktu untuk santai”.
Dengan bersepeda kami mengayuhnya hingga parkir di depan warung ketan yang secara tak disangka disitu telah ada Bung August. Bung August salah satu manajer lembaga kursus disini pun selanjutnya tergiring untuk diskusi bersama mulai dari potensi alam dan budaya Kediri, situasi hukum dan politik nasional, kriminalisasi penyidik di KPK hingga koleksi buku-buku yang bagus untuk dibaca. Nah sebelum diskusi atau saat memarkir sepeda itulah saya langsung di sodori sebuah buku oleh Bung August, judulnya: “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong”. Bung August ternyata masih menyimpan keinginan saya untuk membaca buku itu pada diskusi kami tempo hari dan bersedia meminjamkan buku itu meski harus diambilnya terlebih dahulu di kediamannya di Nganjuk, sebuah kabupaten yang tetangganya Kediri.
Saya memang ‘menggilai’ buku dari pada harus jadi gila karena sang kekasih…(hahaha). Bahkan memilih lebih sering jatuh cinta kepada buku ketimbang patah hati oleh seorang gadis. Bersama buku, kamus patah hati tidak kujumpai, buku apa saja yang kutemui saya pasti cinta sedalam-dalamnya. Dengan seorang gadis, istilahnya lebih sering patah hati setelah jatuh cinta…(hehehe) –padahal saya tahu rumusnya tidak sesulit yang dibayangkan, bahwa setelah jatuh cinta tahap selanjutnya adalah membangun cinta, lalu merawatnya hari demi-hari untuk menghasilkan buah-buah kasih sayang, selalu berkomitmen satu jiwa dalam dua tubuh lalu menyiramnya dengan air kehangatan, kebahagiaan juga kedamaian, sebab tidak ada cinta sejati di dunia ini kecuali kita mau melakukannya, “Just do it”, kata seniorku Mercy Rampengan, kandidat Doktor Ekologi Kebencanaan di Universitas James Cook Australia, ketika di Manado.
Jadi saya pun juga tidak mau seperti Soe Hok-Gie, ikon aktivis mahasiswa ‘65-‘66, yang selalu kandas menaklukkan hati gadis pujaannya padahal punya istilah: “Buku-Pesta-Cinta”. Mungkin karena lebih ‘menggilai’ buku, kembara alam dan aktivisme cinta tanah air-bangsa-negara maka istilah “cinta”nya untuk gadis impian dinomorduakan. Terlepas dari itu, saya ‘menggilai’ tulisan-tulisan almarhum Gie, terutama sajak-puisinya yang romantis-sarat makna dan buah pemikirannya yang dirangkum dalam “Catatan Seorang Demonstran”, buku harian yang sering disentil sebagai “Kitab Suci” aktivis mahasiswa Indonesia.
Maka di kampung Inggris ini saya sungguh pelajar bahasa yang paling beruntung. Bung August dengan baik hati secara berkala meminjamkan koleksi bukunya. Pertama, buku Cracking Zone –nya Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Khasali yang membahas bagaimana perkembangan dan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi telah membuat suatu perubahan dalam gaya dan pola hidup masyarakat Indonesia, lalu ada buku: The Travels of a T-Shirt in the Global Economy-nya Prof. Pietra Rivoli dari Universitas Georgetown Amerika Serikat yang menganalisa ekonomi pasar, kekuasaan dan politik perdagangan dunia, pasar Bebas, dari kisah sederhana tentang kaos oblong (T’shirt) seharga enam dolar, serta tentu saja “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong” yang sedang kubaca ini. Nah, buku yang terakhir ini berkisah tentang perjuangan hidup seorang Chairul Tanjung atau Bung CT, big bosnya CT Corp (Chairul Tanjung Corporation), yang sedang jadi buah bibir dan dibahas dimana-mana. Tak ketinggalan didiskusikan juga di salah satu sudut kampung Inggris.
Balik dari warung ketan ke Saigon, pukul sepuluh malam saya putuskan untuk mengurung diri dikamar, larut dan membaca detil helai-demi helai 384 halaman buku ini. Saya pun mulai mencicipi ‘Singkong Rebus Panas’ ala Chairul Tanjung itu ditemani 1500 mili liter botol air mineral club. Rasanya memang tak benar-benar singkong, tetapi setelah melumat, mengunyah, menyantap habis, maka kini kudapat lumuran ‘keju’ inspirasi pengalaman dan motivasi darinya. Jadinya singkong rasa keju, sungguh begitu nikmatnya apalagi dengan secangkir kopi hitam panas-panas…(wow…hahaha).
Pengalaman kerja keras, etika, kerjasama dan komitmennya bergelut di dunia bisnis selama lebih dari 30 tahun membuat Bung CT memiliki segudang pengalaman dan prestasi yang sungguh sayang untuk tidak kita timba. Diawali dari usaha di sektor informal memperbanyak dan menjual buku asisten praktikum dan usaha fotokopi di bawah tangga kampus UI selama mahasiswa yang selalu disebutnya sebagai milestone kebangkitan semangat entrepreneurshipnya, kemudian menjadi pemasok alat-alat kedokteran gigi, usaha industri genteng metal, produsen sandal, produsen kertas-kertas sembayang, bisnis properti, mengelola Bank Karman, sebuah bank bermasalah di tahun 1995 ke Mega Bank selanjutnya berganti nama Bank Mega, lalu ada Bank Mega Syariah, bank swasta pertama di Indonesia yang beroperasi dengan konsep syahriah setelah mengkonversi Bank Tugu Pratama -bukanlah pekerjaan mudah. Maklum usaha perbankan merupakan sebuah usaha yang sama sekali tidak sembarangan, harus dikelola dengan amat hat-hati, penuh ketelitian, karena tanggungjawab yang begitu besar. Ini sebuah usaha mulia untuk menjalankan amanah para nasabah, seperti komitmen pada ikatan suci ‘ijab kabul’ dalam perkawinan.
Saya mengatakan demikian karena kita (atau mereka) yang telah dewasa berpikir di era tahun 1996 hingga 2000 tentu masih ingat jelas bagaimana negeri ini memiliki masalah dunia perbankan yang tata kelolanya tidak baik, nasabah bermasalah, kredit macet, bank bangkrut, dilikuidasi dan akibatnya uang rakyat yang harusnya untuk pembangunan direlakan untuk mengganti uang nasabah dan bahkan yang lebih miris lagi sampai di korupsi, sungguh terlalu. Nah, di buku Bung CT ini saya menemukan ujarannya bahwa di bisnis perbankan yang menurut saya mulia itu, kita memang tidak pernah tahu bahwa mungkin saja uang yang di tabung merupakan satu-satunya harta nasabah. Bahwa Kalaupun mereka bicara jujur dari dasar hati yang paling dalam, mungkin saja sebagian nasabah akan berkata: “Ini harta saya, titipan Tuhan, saya percayakan kepada Anda. Silahkan kelola dengan baik, dan bila untung, saya harap akan mendapat bagian setimpal”.
Dari pengalaman carut-marutnya dunia bisnis terutama perbankan di tanah air, sekarang ini sangat mudah mencari dan menemukan orang berkualitas dalam pekerjaan, tapi cukup sulit mencari yang memiliki integritas dan kejujuran, sementara hal ini merupakan parameter utama bagi karyawan-karyawan di seluruh perusahaan. Jadi saya pikir menimba ilmu dari Bung CT meskipun melalui paparan di keterbatasan buku ini sungguh tak ada ruginya.
Tahun 2001 hingga 2004, Bung CT pernah dipercaya memimpin induk olahraga bulu tangkis Indonesia (PBSI) dan menerapkan manajemen profesional disitu sehingga pernah berhasil mempertahankan piala Thomas terakhir bagi Indonesia di Guangzhou, Cina -tahun 2002. Dia orang sipil pertama yang memimpin PBSI setelah sebelumnya organisasi ini kerap dipimpin Jenderal Militer. Akhir desember tahun 2004 saat Gempa-Tsunami menghantam Nanggroe Aceh Darussalam, Bung CT bersama koleganya pun berbuat disana, terutama membangun sekolah unggulan dan asrama (rumah anak madani) di Deli Serdang, Sumatera Utara untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak korban bencana dan yang mengalami keterbatasan biaya.
Maka membaca buku ini, membuat anak muda seperti saya bisa saja terkesima oleh mimpi besar Bung CT dengan Visi Indonesia 2030 yang dikatakannya untuk mewujudkan Indonesia maju, modern, sejajar dengan negara-negara besar lainnya dengan masyarakatnya yang sejahtera, juga tentang kerja keras, perbaikan akhlak bangsa dan pemberdayaan sektor ekonomi umat untuk mengejar ketertinggalan. Tentang keinginannya agar Indonesia bisa lebih baik bukan hanya satu tahapan tetapi berkelanjutan dan tidak pernah putus seperti motivasinya membangun Trans Corp, Global Resources dan Carrefour Indonesia yang bernuansa kekeluargaan. Saya pikir mungkin saja kelak orang-orang seperti Bung Chairul harus di ‘coblos’ menjadi Presiden NKRI pada pesta demokrasi Pemilu nanti…(hahaha)
Bung CT sendiri mengakui bahwa banyak orang yang menganggap seolah-olah semua usaha yang dijalankannya begitu gampang dan nikmat sekali, padahal selalu menurut pengakuannya bahwa apa yang dijalani sangat berat, dimana tantangan dan cobaannya luar biasa kerap menghadang. Pada Epilog (halaman 347) disitu tertulis, tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan demikian juga tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan dan kedisiplinan selain harus dibarengi dengan sikap pantang menyerah dan tidak cepat putus asa. Bahwa semua cita-cita dan ambisi hanya bisa direngkuh apabila kita mau terus belajar berbagai hal, dimana pun dan pada siapapun dan sesudahnya semoga kita akan selalu berbagi, menginspirasi dan memotivasi generasi muda, orang-orang lainnya untuk terus berkarya.
Ada satu yang paling saya suka di buku itu yaitu tentang masa kecil dan kehidupan keluarganya sebelum dia sukses seperti sekarang. Ditempa oleh kehidupan yang keras sementara kondisi ekonomi keluarganya yang morat-marit, Bung CT hanya berujar: “Sudahlah, hidup tak semata memorabilia dan melayang berlama-lama di dalamnya. Yang penting adalah bagaimana langkah kedepan dengan tidak mengulang berbagai kesalahan di masa depan”.
Okey, terima kasih Bung CT, semoga saya dan pembaca menjadi amat produktif lagi dengan daya juang dan kreatifitas entrepreneurship, terus bekerja keras-cerdas, profesional sekaligus tetap jujur dengan napas nasionalis kerakyatan untuk menumbuhkan optimisme kita sebagai negara-bangsa ‘terkaya’ di dunia ini (for a better Indonesia). Kata Bung Karno, Presiden Pertama kita seperti dikutip di halaman 354: “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, memiliki makna filosofis agar potensi bangsa yang luar biasa besar ini bukan hanya sebagai bangsa kuli yang dijuluki benar-benar tempe dan singkong, dan untuk itulah bagi kita generasi sekaranglah yang harus lebih realistis serta lebih pandai dalam menyiasati kehidupan ini. Maka teringatlah saya pada kalimat bijak ini: “Nikmatnya hidup akan terasa setelah kita lelah berjuang”. Salam…YES WE CAN!

No comments:

Post a Comment